De Djawatan Benculuk Banyuwangi: Hutan Trembesi Ikonik yang Wajib Masuk Itinerary Liburan

Uploaded Image

 

Kalau bicara Banyuwangi, banyak orang langsung teringat pantai, gunung, dan wisata alam yang fotogenik. 

Tapi ada satu destinasi yang belakangan makin sering disebut wajib dikunjungi, yaitu De Djawatan Benculuk

Kawasan wisata yang berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi ini terkenal dengan deretan pohon trembesi raksasa yang membentuk kanopi alami, memberi suasana teduh, sejuk, dan sedikit magis.

Buat yang belum pernah ke sana, De Djawatan memang sering disangka “cuma hutan biasa”. Padahal, justru di situlah daya tariknya: tempat ini menawarkan pengalaman berjalan di bawah pepohonan tua yang besar, rapat, dan sangat fotogenik, sehingga sering dijuluki mirip hutan fantasi ala Lord of the Rings.




Apa itu wisata De Djawatan Benculuk?

De Djawatan adalah kawasan wisata alam hutan trembesi yang dikelola sebagai destinasi rekreasi di Banyuwangi. 

Menurut Perhutani, nama “De Djawatan” dipilih untuk mengingat kejayaan Perum Perhutani, yang dahulu dikenal sebagai Djawatan Kehutanan. 

Kawasan ini mulai dibuka sebagai tempat wisata pada 2018 setelah melalui observasi dan uji kelayakan.

Secara visual, yang membuat tempat ini istimewa adalah trembesi-trembesi tua berusia sekitar 100–150 tahun dengan jumlah sekitar 805 pohon di area seluas 9 hektare

Kombinasi batang besar, cabang yang saling bertaut, dan lumut atau epifit di beberapa bagian pohon menciptakan suasana yang sangat khas dan sulit ditemukan di tempat lain. 



Sejarah singkat De Djawatan

Kalau menelusuri sejarahnya, De Djawatan punya beberapa versi cerita yang beredar. Versi yang paling sering dikutip menyebut kawasan ini dulunya berfungsi sebagai Tempat Penimbunan Kayu (TPK) pada masa pengelolaan hutan, sebelum akhirnya dikembangkan menjadi destinasi wisata. 

Ada juga cerita lain tentang kaitannya dengan masa kolonial dan jalur logistik kayu, tetapi Perhutani menekankan fungsi historisnya sebagai area penimbunan kayu dan kaitannya dengan nama lama “djawatan”.

Menariknya, jejak sejarah itu masih terasa sampai sekarang. De Djawatan bukan cuma tempat rekreasi, tetapi juga semacam pengingat bahwa kawasan ini punya hubungan panjang dengan sejarah pengelolaan hutan di Banyuwangi. 

Itulah sebabnya banyak pengunjung datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga untuk merasakan atmosfer sejarahnya.



Kenapa De Djawatan menarik, meski sering dibilang “cuma pohon tua”?

Pandangan seperti itu biasanya muncul dari orang yang belum benar-benar merasakan suasananya. Dari luar, memang terlihat sederhana: pohon-pohon besar, jalan setapak, rumput hijau, dan udara teduh. 

Tapi justru perpaduan itulah yang membuat De Djawatan unik. Suasana sejuk dan tenang di bawah kanopi trembesi membuat tempat ini terasa seperti ruang istirahat alami dari hiruk-pikuk kota dan wisata yang terlalu ramai.

Selain itu, De Djawatan punya nilai visual yang kuat. Cahaya matahari yang masuk di sela-sela ranting menciptakan efek dramatis, sementara bentuk pohon yang berlapis-lapis memberi latar yang sangat kuat untuk foto portrait, foto keluarga, prewedding, atau sekadar dokumentasi liburan. 

Jadi, daya tariknya bukan cuma “buat foto-foto”, melainkan juga pengalaman berada di ruang alam yang memang indah, teduh, dan terasa berbeda.



Aktivitas yang bisa dilakukan di De Djawatan

Eksotisme hutan Djawatan (Instagram @djawatan)


Di sini, aktivitas paling populer tentu saja hunting foto. Banyak pengunjung datang khusus untuk mencari angle terbaik di bawah pohon trembesi yang menjulang dan bercabang unik. 

Waktu terbaik biasanya pagi atau sore saat cahaya lebih lembut dan suasana hutan terlihat makin dramatis.

Selain foto-foto, pengunjung juga bisa jalan santai menikmati suasana hutan, duduk santai sambil menikmati udara sejuk, atau datang bersama keluarga untuk piknik ringan. 

Beberapa sumber juga menyebut ada aktivitas tambahan seperti naik kuda, delman/dokar, dan ATV dengan tarif terpisah.

Bagi yang datang bersama anak-anak, De Djawatan juga cocok untuk wisata edukasi sederhana. Anak-anak bisa melihat langsung seperti apa hutan dengan pohon besar yang tetap terjaga, sekaligus belajar bahwa wisata alam tidak selalu harus ekstrem atau penuh adrenalin.



Jam buka De Djawatan

Untuk jam operasional, sumber terbaru yang ditemukan mencantumkan De Djawatan buka setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Ini bisa dianggap sebagai jam operasional standarnya.

Namun sebenarnya kamu bisa lebih datang lebih awal lagi,yaitu mulai pukul 07.00 WIB bahkan 06.00 pun sudah ada petugas yang melayani. 

Biasanya mereka yang datang lebih awal ini memang sengaja ingin berburu foto atau ingin membuat konten yang sinematik.

Supaya lebih nyaman, datanglah pagi atau menjelang sore. Selain udaranya lebih adem, pencahayaan juga lebih bagus untuk foto. 

Di jam-jam itu, kesan “hutan dongeng” dari De Djawatan biasanya terasa lebih kuat.



Tiket masuk De Djawatan

Soal tiket, sumber terbaru yang cukup konsisten mencantumkan harga masuk sekitar Rp7.500 per orang. Perhutani dalam artikel tahun 2022 menyebut tarif Rp6.000, jadi besar kemungkinan ada penyesuaian di periode setelahnya. 

Karena itu, angka yang paling aman dipakai saat ini adalah kisaran Rp7.500, sambil tetap mengecek ulang bila berkunjung saat libur panjang atau ada event khusus.

Untuk parkir, sumber yang sama mencantumkan sekitar Rp2.000 untuk motor, Rp5.000 untuk mobil, dan ada juga tarif tambahan untuk wahana seperti kuda atau delman. 



Akses menuju lokasi De Djawatan

Lokasi De Djawatan berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi. Dari pusat Kota Banyuwangi, perjalanan umumnya ditempuh sekitar 1 jam dengan kendaraan pribadi, atau sekitar 31 kilometer berdasarkan beberapa sumber panduan wisata.

Rute yang sering dipakai adalah dari Kota Banyuwangi menuju arah selatan melalui jalur Banyuwangi–Jember, melewati Rogojampi dan Srono, lalu menuju Benculuk. 

Patokan yang banyak disebut adalah Pertigaan Benculuk dan Masjid Jami’ Al-Falah, dengan pintu masuk berada di gang sebelah utara masjid. 

Jalan menuju lokasi umumnya sudah beraspal, tetapi penunjuk arah bisa saja tidak terlalu besar, jadi pengunjung baru biasanya lebih nyaman memakai peta digital. 



Kenapa De Djawatan layak masuk daftar wajib wisata Banyuwangi?

De Djawatan bukan destinasi yang menawarkan banyak wahana modern. Justru kekuatannya ada pada kesederhanaan: alam yang teduh, pohon-pohon trembesi tua, sejarah yang melekat, dan suasana yang membuat pengunjung merasa seperti masuk ke dunia lain. 

Karena itu, tempat ini cocok untuk wisata keluarga, wisata santai, pecinta foto, dan siapa pun yang ingin menikmati sisi Banyuwangi yang lebih tenang.

Kalau Anda sedang menyusun rute liburan ke Banyuwangi, De Djawatan pantas ditempatkan di daftar teratas. 

Ia bukan sekadar hutan, melainkan perpaduan antara alam, sejarah, dan pengalaman visual yang sulit dilupakan. 

Posting Komentar untuk "De Djawatan Benculuk Banyuwangi: Hutan Trembesi Ikonik yang Wajib Masuk Itinerary Liburan"

loading...