![]() |
Lawang Sewu Semarang (Okezone.com) |
Lawang Sewu, yang berarti “seribu pintu”, memang dinamai demikian karena jumlah pintu dan jendelanya yang banyak, sebagai sistem sirkulasi udara khas zaman kolonial Belanda.
Dibangun pada 1904–1907 (Bangunan A), dan dilengkapi bangunan tambahan hingga 1919, gedung ikonik ini dirancang oleh para arsitek Belanda Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouëndag dalam gaya New Indies Style.
Selain pintu dan lengkung yang khas, ornamen kaca patri karya Johannes Lourens Schouten, kubah tembaga, serta hiasan perunggu dan tembikar memperkaya estetika bangunan.
Dari Kantor Kereta Swasta ke Museum Interaktif
Pernah menjadi kantor pusat NIS (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij), Lawang Sewu lalu dialihfungsikan oleh Jepang, DKARI, dan sempat menjadi markas militer sebelum akhirnya melewati pemugaran besar pada tahun 2009–2011 dan dibuka kembali sebagai museum serta situs kebudayaan pada 5 Juli 2011.
Kini, Lawang Sewu dikelola oleh KAI Wisata dan berfungsi sebagai museum, galeri sejarah perkeretaapian, perpustakaan, sekaligus ruang kegiatan umum seperti pameran, shooting, pernikahan, bazar, konser, dan lain-lain.
Daya Tarik Terbaru: Edukatif, Interaktif, dan Mistis
Panggung wisata Lawang Sewu semakin menarik berkat hadirnya:
* Area Immersive — pengalaman sejarah interaktif melalui layar dan instalasi modern.
* Eksplorasi ruang bawah tanah (Kelderverkenning) — untuk pecinta sensasi menelusuri sejarah kelam di bawah gedung, kini kembali dibuka dengan pendampingan pemandu dan APD.
Mitos dan cerita horor juga memberi daya tarik tersendiri—terutama kisah ruang bawah tanah saat pendudukan Jepang yang dipakai sebagai penjara atau tempat penyiksaan.
Aktivitas Wisata dan Tips Praktis
Informasi Praktis
* Jam operasional: Senin–Minggu, pukul 07.00–21.00 WIB
* Harga tiket terbaru 2025:
* Dewasa & mahasiswa: Rp 20.000
* Anak-anak & pelajar: Rp 10.000
* Wisatawan mancanegara: Rp 30.000 .
Tips Liburan
* Bawa uang tunai karena sebagian pembayaran (sewa baju adat, area immersive) kemungkinan belum sepenuhnya cashless.
* Menghindari menyentuh benda koleksi untuk menjaga kelestariannya.
* Jika berminat foto pre-wedding atau syuting, wajib koordinasi sebelumnya dengan pengelola.
* Kamera profesional, handycam, atau GoPro juga sebaiknya dikomunikasikan dengan petugas untuk menghindari kesalahpahaman.
* Selalu jaga kebersihan dan buang sampah pada tempatnya.
Rute dan Akses
Lokasi Lawang Sewu sangat strategis: di Jl. Pemuda No. 160, Sekayu, Semarang Tengah, tak jauh dari Simpang Lima pusat kota.
Dari Simpang Lima, perjalanan lanjutan melalui Jalan Pandaran sekitar 2–2,3 km, destinasi berada di sebelah kanan bundaran.
Bagi pelancong dari Jakarta, rute ke Semarang via tol dan bus/kereta yang selanjutnya dilanjutkan oleh angkutan kota atau ojek ke pusat kota.
Lawang Sewu semakin memikat berkat perpaduan sejarah, arsitektur kolonial, pengalaman interaktif modern, legenda mistis, dan rangkaian acara khas Semarang 2025.
Bukan sekadar destinasi wisata, Lawang Sewu kini menjadi laboratorium edukasi, budaya, hingga refleksi historis yang kaya sensasi dan cerita.
Posting Komentar untuk "Menyusuri Jejak Sejarah dan Arsitektur: Lawang Sewu, Warisan Kota Semarang"